Bandung – Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali menyelenggarakan kegiatan akademik strategis melalui Workshop bertema “Peluang Karir dan Tantangan Profesi Bimbingan Konseling Islam di Luar Lembaga Pendidikan.” Acara digelar pada Rabu (26/11/2025) di Aula Utara Gedung Pascasarjana lantai 4 dan diikuti oleh mahasiswa Magister BKI serta sivitas akademika Pascasarjana UIN Bandung.
Workshop ini dirancang untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai profesi konseling Islam yang semakin dibutuhkan di berbagai sektor non-pendidikan, termasuk lembaga sosial, pusat layanan psikologi, komunitas keagamaan, perusahaan, hingga ruang digital.
Guru Besar UPI Bahas Peta Karir Konselor Islam
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. H. Juntika Nur Ihsan, M.Pd., Guru Besar Bimbingan Konseling UPI, memaparkan dinamika perkembangan profesi konselor di masyarakat modern. Ia menjelaskan bahwa kompetensi konselor tidak lagi terbatas pada ruang sekolah, tetapi telah berkembang menjadi kebutuhan publik di banyak lini kehidupan.
“Konselor Islam memiliki peluang besar di masyarakat. Tantangannya bukan hanya pada ketersediaan lapangan kerja, tetapi pada kesiapan profesionalisme, etika, dan penguasaan pendekatan konseling yang relevan,” ungkap Juntika.
Ia menekankan bahwa konselor masa kini harus adaptif, memiliki kompetensi multikultural, serta mampu merespons isu psikososial yang semakin kompleks.
Kaprodi BKI Tekankan Urgensi Profesionalisme
Sebagai keynote speaker, Dr. Dadang Ahmad Fajar, M.Ag., CHC., CGHNC., CNLPC memaparkan arah penguatan kurikulum BKI agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Ia menekankan pentingnya membangun kompetensi konselor yang mampu bekerja lintas institusi dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
“Profesionalisme konselor bukan hanya ditentukan kemampuan teknik, tetapi integritas dan komitmen menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Moderator Soroti Tantangan Etika di Era Digital
Workshop dipandu oleh Dr. Hajir Tajiri, M.Ag., Sekprodi BKI Pascasarjana, yang menyoroti tantangan etika profesi konselor di era digital. Menurutnya, konselor Islam harus mampu menjaga kerahasiaan, mengatur batas profesional, serta mengelola relasi konseling dengan bijak di tengah keterbukaan informasi yang sangat cepat.
Hadir pula Prof. Dr. H. Dindin Solahudin, MA sebagai wakil Direktur Pascasarjana, yang memberikan penguatan mengenai peran strategis Program Magister BKI dalam menyiapkan tenaga konselor profesional yang dibutuhkan masyarakat. Ia menegaskan bahwa Pascasarjana UIN Bandung berkomitmen menghadirkan pendidikan konseling Islam yang responsif terhadap perkembangan zaman dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
Workshop ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk bertanya langsung mengenai jalur karir, kompetensi wajib, dan tantangan etis yang akan dihadapi ketika bekerja di luar lembaga pendidikan. Kegiatan ini diharapkan semakin memperkuat orientasi profesional mahasiswa Magister BKI dalam memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif dan multidimensional.






