Sumedang — Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling Islam (S2 BKI) Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang, pada 25 Juni 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Pengembangan Skill Konselor Berbasis Isu-Isu Problematik di Era Digital.”
PKM ini menjadi bagian dari komitmen akademik S2 BKI UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam memperluas manfaat keilmuan Bimbingan dan Konseling Islam bagi masyarakat. Kegiatan tersebut melibatkan unsur kecamatan, tokoh masyarakat, mahasiswa, serta peserta yang memiliki perhatian terhadap penguatan layanan pendampingan dan konseling di tengah perkembangan teknologi digital.
Dalam sambutannya, Camat Buahdua menyampaikan apresiasi atas kehadiran Program Studi S2 BKI Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung di wilayah Buahdua. Menurutnya, perubahan sosial yang dipengaruhi media digital menimbulkan tantangan baru bagi keluarga, remaja, lembaga pendidikan, dan masyarakat secara umum. Karena itu, penguatan keterampilan konselor dinilai penting agar masyarakat memiliki pendamping yang mampu memahami persoalan secara tepat, humanis, dan sesuai kebutuhan zaman.
Ketua Program Studi S2 BKI Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Dadang Ahmad Fajar, M.Ag., menegaskan bahwa era digital menghadirkan peluang besar sekaligus persoalan yang kompleks. Berbagai isu seperti kecanduan gawai, tekanan sosial media, krisis identitas, perundungan digital, kecemasan, hingga lemahnya komunikasi dalam keluarga membutuhkan respons konseling yang kontekstual.
Ia menyampaikan bahwa konselor tidak cukup hanya menguasai teori dan teknik konseling konvensional. Konselor juga perlu memiliki literasi digital, kepekaan sosial, kemampuan membangun komunikasi empatik, serta fondasi spiritual yang kuat agar dapat mendampingi individu secara utuh.
“Pengembangan keterampilan konselor harus diarahkan pada kemampuan memahami persoalan masyarakat secara nyata. Konselor Muslim perlu hadir sebagai pendamping yang mampu memadukan kompetensi profesional, nilai keislaman, dan kepedulian terhadap tantangan kehidupan digital,” ujar Dr. Dadang Ahmad Fajar, M.Ag.
Sekretaris Program Studi S2 BKI, Dr. H. Hajir Tajiri, M.Ag., menambahkan bahwa kegiatan PKM merupakan wujud implementasi tridarma perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan keilmuan di kampus, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, masyarakat membutuhkan ruang edukasi dan pendampingan agar mampu menghadapi persoalan digital secara kritis, sehat, dan bermakna.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat, keluarga, serta praktisi konseling. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membangun lingkungan yang lebih responsif terhadap persoalan psikologis, sosial, dan spiritual yang berkembang di tengah masyarakat.
Salah satu materi dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Eti Rohaeti, praktisi hipnoterapi. Ia memperkenalkan hipnoterapi sebagai pendekatan pendukung yang dapat digunakan secara etis dan profesional dalam proses pendampingan individu. Pendekatan ini dapat membantu proses relaksasi, pengelolaan emosi, penguatan motivasi, serta pembentukan pola pikir yang lebih adaptif, dengan tetap memperhatikan batas kompetensi, persetujuan klien, dan prinsip-prinsip etik konseling.
Kegiatan PKM ini diharapkan dapat memperkuat kesiapan masyarakat dan calon konselor dalam menghadapi dinamika era digital. Melalui pengembangan keterampilan konseling yang berbasis nilai Islam, profesionalitas, dan kepedulian sosial, S2 BKI UIN Sunan Gunung Djati Bandung terus berkomitmen untuk menghadirkan layanan keilmuan yang relevan, aplikatif, dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat.





