Bandung — Pascasarjana Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung bekerja sama dengan PEKA menyelenggarakan International Conference on Mind, Identity & Meaning in the Digital Age 2026 pada Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid di Aula Lantai 4 Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung serta melalui Google Meet.
Konferensi internasional tersebut menghadirkan akademisi dan praktisi dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Mesir, dan Brunei Darussalam. Forum ini menjadi ruang dialog ilmiah mengenai persoalan kesehatan mental, identitas diri, makna hidup, spiritualitas, serta perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dalam kehidupan masyarakat digital.
Ketua Program Studi S2 Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Dadang Ahmad Fajar, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, komunikasi, layanan psikologis, dan praktik konseling. Kehadiran AI dapat menjadi sarana pendukung yang produktif, tetapi penggunaannya juga perlu disertai literasi etik, penguatan karakter, dan kesadaran spiritual.
Menurutnya, AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran konselor dan terapis. Konseling membutuhkan empati, kehadiran manusiawi, pemahaman nilai, serta kemampuan membaca kondisi psikologis dan spiritual individu secara utuh. Karena itu, Bimbingan dan Konseling Islam perlu mempertegas peran konselor Muslim dalam mendampingi masyarakat agar mampu menggunakan teknologi secara sehat, kritis, dan tetap berorientasi pada nilai-nilai Islam.
“AI harus ditempatkan sebagai sarana untuk membantu manusia, bukan mengendalikan manusia. Konselor Muslim memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi agar tetap berpihak pada kesehatan mental, kematangan identitas, dan penguatan spiritualitas,” ujar Dr. Dadang Ahmad Fajar, M.Ag.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Program Studi S2 BKI, Dr. H. Hajir Tajiri, M.Ag., menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan bagian dari ikhtiar akademik Prodi S2 BKI dalam merespons perubahan sosial dan teknologi yang semakin cepat. Menurutnya, persoalan digital tidak hanya berkaitan dengan kecakapan penggunaan media, tetapi juga menyentuh dimensi batin, moralitas, relasi sosial, dan orientasi hidup manusia.
Ia menegaskan bahwa pengembangan keilmuan Bimbingan dan Konseling Islam harus mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa melepaskan akar keislamannya. Oleh karena itu, integrasi antara ilmu konseling, psikologi, tasawuf, etika digital, dan teknologi menjadi penting untuk dikembangkan dalam kajian, penelitian, maupun praktik layanan BKI.
“Mahasiswa dan praktisi BKI perlu memiliki kesiapan untuk menghadapi persoalan baru di era digital, seperti kecanduan teknologi, krisis identitas, kecemasan digital, isolasi sosial, serta ketergantungan terhadap AI. Namun, semua itu harus dijawab dengan pendekatan yang ilmiah sekaligus berlandaskan nilai spiritual Islam,” tutur Dr. H. Hajir Tajiri, M.Ag.
Keynote speaker, Dr. H. Isep Zaenal Arifin, M.Ag., dalam pemaparannya menekankan perlunya pendidikan spiritual dalam menghadapi dampak negatif AI. Ia menjelaskan bahwa persoalan ketergantungan digital dan penggunaan teknologi yang tidak sehat tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan teknis, tetapi juga membutuhkan penguatan kesadaran batin manusia.
Dr. Isep mengaitkan tantangan AI dengan konsep tasawuf melalui tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari kecenderungan negatif, termasuk kecanduan digital dan penggunaan AI yang tidak proporsional. Tahalli merupakan proses menghiasi diri dengan akhlak, tanggung jawab, kedisiplinan, dan etika dalam menggunakan teknologi. Sementara tajalli diarahkan pada tumbuhnya kesadaran spiritual bahwa teknologi semestinya menjadi medium untuk menghadirkan kemaslahatan dan kedekatan kepada Allah SWT.
Dalam perspektif tersebut, dzikir dipahami sebagai ruh yang menghidupkan kesadaran manusia saat menggunakan AI. Teknologi tidak hanya perlu dikuasai secara teknis, tetapi juga harus diarahkan oleh hati yang bersih, akal yang kritis, dan akhlak yang baik. Gagasan ini membuka peluang lahirnya pendekatan baru berupa spiritualitas digital berbasis nilai tasawuf dalam penggunaan kecerdasan artifisial.
Melalui konferensi ini, Program Studi S2 Bimbingan dan Konseling Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan komitmennya untuk mengembangkan keilmuan BKI yang responsif terhadap perkembangan teknologi. AI diposisikan sebagai instrumen pendukung layanan kemanusiaan, sedangkan konselor Muslim tetap memiliki peran utama dalam membimbing individu menuju kesehatan mental, keteguhan identitas, kebermaknaan hidup, dan kedekatan spiritual kepada Allah SWT.





