Bandung — Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui Program Studi Magister Bimbingan Konseling Islam (BKI) menyelenggarakan seminar bertajuk “Children Mental Health: Need Assessment and Counseling” pada Rabu (29/4). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya akademik dalam merespons meningkatnya kompleksitas persoalan kesehatan mental anak di era kontemporer.
Seminar menghadirkan Dr. Ipah Saripah sebagai narasumber utama yang menekankan pentingnya need assessment sebagai langkah awal dalam mengidentifikasi dan menangani permasalahan psikologis anak. Dalam paparannya, ia mengungkap bahwa banyak kasus kesehatan mental anak bersifat laten dan baru terdeteksi ketika individu memasuki fase remaja, sehingga penanganannya sering terlambat.
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Direktur II Pascasarjana, Dr. H. Aden Rosadi yang menegaskan bahwa kesehatan mental anak merupakan isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Ia menyoroti fenomena meningkatnya kasus kekerasan dan pengabaian terhadap anak, baik di lingkungan keluarga maupun lembaga pendidikan, yang berimplikasi pada terganggunya perkembangan psikologis anak. Menurutnya, pembinaan mental anak harus dipahami sebagai proses fundamental dalam membentuk generasi yang unggul dan berdaya saing. Proses tersebut tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga menyentuh dimensi emosional dan spiritual sebagai bagian dari pembentukan kepribadian yang utuh.
Sambutan akademik disampaikan oleh Ketua Program Studi S2 BKI, Dr. H. Dadang Ahmad Fajar yang menegaskan bahwa isu kesehatan mental anak merupakan bagian penting dalam pengembangan keilmuan Bimbingan Konseling Islam. Ia menyampaikan bahwa pembinaan mental sejak usia dini menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketahanan psikologis dan spiritual.
Jalannya seminar dipandu oleh moderator, Dr. Hajir Tajiri selaku Sekertaris Program Studi BKI S2 yang mengarahkan diskusi secara konstruktif dan reflektif. Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa pendekatan terhadap kesehatan mental anak harus dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan kesinambungan setiap fase perkembangan manusia.
Sebagai hasil dari diskusi ilmiah, seminar ini merumuskan sejumlah strategi penguatan layanan konseling anak, di antaranya integrasi Social-Emotional Learning (SEL) dalam kurikulum pendidikan, peningkatan kolaborasi antara guru, orang tua, dan konselor, serta pemanfaatan teknologi digital seperti mood tracking dalam memantau kondisi psikologis anak. Selain itu, pendekatan konseling berbasis nilai spiritual Islam juga ditekankan sebagai kerangka holistik dalam mendukung kesehatan mental.
Melalui kegiatan ini, Pascasarjana BKI S2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan komitmennya dalam mengembangkan kajian dan praktik konseling yang adaptif terhadap dinamika sosial. Diharapkan, para calon konselor mampu menjadi ruang aman (safe space) bagi anak-anak dalam menjalani setiap tahap perkembangan secara sehat, aman, dan bermartabat.






