Bandung – Forum Pengembangan Profesional Psikologi dan Penandaarasan Kaunseling Islam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung memasuki hari kedua, Selasa (15/7/2025), dengan paparan mendalam dari dua narasumber internal: Sugandi Mihardja, Ph.D. dan Dr. Hajir Tajiri, M.Ag. Keduanya hadir mengangkat dua pilar penting dalam dunia konseling Islami: psikotes dalam dunia pendidikan dan etika profesi konselor.
Sesi yang berlangsung di Aula Pascasarjana ini diikuti dengan antusias oleh delegasi dari Malaysia dan mahasiswa Magister BKI UIN Bandung. Diskusi berlangsung hangat, reflektif, dan menyentuh aspek teknis sekaligus nilai dasar profesi konseling.
Dalam paparannya, Sugandi Mihardja mengangkat peran penting psikotes dalam sistem pendidikan, baik untuk pemetaan potensi maupun deteksi dini gangguan psikologis.
“Psikotes bukan sekadar formalitas administratif. Ia adalah pintu masuk untuk mengenali peserta didik secara utuh—bukan hanya kognitif, tapi juga emosional dan sosial,” ujar Sugandi Miharja
Ia menekankan bahwa penggunaan instrumen psikologi harus dilakukan dengan pendekatan humanis, agar hasilnya tidak justru menekan siswa, tapi membimbing mereka pada jalur tumbuh yang tepat.
Sementara itu, Dr. Hajir Tajiri, M.Ag., menekankan pentingnya etika profesi konselor yang berakar dari nilai-nilai Islam. Menurutnya, keahlian teknik saja tidak cukup—seorang konselor harus berintegritas dan mampu menjaga adab dalam setiap proses bimbingan.
“Keberhasilan konseling Islam bukan hanya soal metode, tapi tentang bagaimana nilai itu hidup dalam diri konselor. Etika adalah nafas profesi kita,” tegasnya.
Hajir juga mengingatkan bahwa dalam era digital dan keterbukaan data, tantangan etika semakin kompleks. Konselor Islam harus mampu bersikap bijak dalam menjaga kerahasiaan, membangun kepercayaan, dan tetap berpihak pada kemanusiaan.
Paparan dari kedua narasumber ini mendapat apresiasi tinggi dari delegasi JKPPsiKUA Malaysia. Beberapa menyampaikan bahwa nilai-nilai etika dan pendekatan psikotes berbasis empati bisa menjadi rujukan penting untuk diterapkan di universitas mereka.
“Ini sangat membumi dan aplikatif. Kami belajar bahwa menjadi konselor berarti juga menjadi penjaga moral,” ungkap salah satu peserta dari UTHM.
Hari kedua forum pun ditutup dengan refleksi bersama dan diskusi kelompok, menandai kolaborasi aktif antar peserta dari dua negara dalam menguatkan praktik konseling Islam yang profesional dan bernilai.





